RSS

Media Richness Theory

02 Okt

Media Richness Theory

Media Richness Theory didasarkan pada teori ketidaktentuan dan teori pengolahan informasi. Media Richness Theory pertama kali dibuat adalah oleh Daft & Lengel ( 1984).

Media Richness Theory, yang paling awal dan paling mewakili contoh teori kapasitas media, menekankan bahwa pertemuan antar kerancuan tugas dan kesempurnaan suatu saluran komunikasi adalah kunci untuk para manajer untuk mencapai efektifitas komunikasi.

Media komunikasi di (dalam) organisasi bertukar-tukar dari satu jenis ke jenis lainnya dalam kaitan dengan daya-dukung informasi mereka, dengan kekayaan media dapat mempunyai suatu derajat yang tinggi mengenai daya-dukung informasi dan bersandar media adalah suatu derajat yang bertingkat rendah.

Media Richness Theory menyatakan bahwa ketika kerancuan tugas adalah tinggi, berbagai penafsiran dan solusi adalah mungkin, dan dengan begitu suatu medium dengan suatu derajat tinggi daya dukung informasi adalah yang penting bagi tugas untuk ditangani secara efektif. Bagaimanapun, ketika kerancuan tugas adalah rendah, suatu yang bersandar menengah adalah cukup sebab tugas adalah dapat diramalkan dan sederhana.

Dua asumsi utama teori ini adalah: orang-orang ingin menanggulangi kesalahan/kerancuan (yang memiliki dua arti) dan ketidak-pastian di dalam organisasi dan berbagai media yang biasanya yang digunakan pekerjaan organisasi lebih baik untuk  tugas tertentu  dibanding orang yang lain.

Daft Dan Lengel menyajikan penggunaan empat ukuran-ukuran kedalam suatu hirarki kesempurnaan media, mengatur dari tinggi ke derajat tingkat kesempurnaan rendah, untuk menggambarkan kapasitas media mengetik untuk memproses komunikasi rancu di dalam organisasi.  Teori media richness menggunakan empat ukuran-ukuran untuk menggolongkan media organisatoris dalam kaitan dengan daya dukung informasi :

(1) the speed of  feedback; (kecepatan menghantarkan umpan balik/umpan balik dapat didapatkan secara sekejap)

(2) the capacity to carry multiple cues, such as verbal and nonverbal cues; (kapasitas untuk menghantarkan berbagai bentuk simbol, baik simbol verbal dan non verbal)

(3) the ability to use natural language; and (kemampuan (kualitas) pengunaan sealami bahasa aslinya)

(4) the degree of  personal focus (tingkat hubungan personal).

Teori Media Richness memandang media komunikasi berdasarkan kemampuan media untuk menyampaikan informasi ( Trevino, 1987).  Fokus Teori Media Richness ini adalah pada kemampuan media untuk memberikan umpan balik (feedback), isyarat non verbal, menjaga keutuhan pesan, dan menyajikan ekspresi emosi.

Teori Media Richness  menempatkan Komunikasi Face-To-Face sebagai medium komunikasi yang paling kaya di (dalam) hirarki yang diikuti telepon, pos elektronik, surat, catatan, memo, laporan khusus, dan yang terakhir, flyer dan buletin.

Dari suatu perspektif manajemen strategis, teori kesempurnaan media menyatakan bahwa buatan para manajer efektif aneka pilihan masuk akal yang mempertemukan medium komunikasi tertentu  untuk suatu sasaran atau tugas spesifik dan kepada derajat tingkat kesempurnaan yang diperlukan oleh tugas itu

Pada awal mula dikembangkannya komunikasi berbasis internet, Teori Media Richness banyak digunakan untuk mempelajari perilaku komunikasi manusia (Daft & Lengel, 1984)

by:enggia garcia f

Daftar Pustaka

Daft, R.L. & Lengel, R.H. (1984). Information richness: a new approach to managerial behavior and organizational design. In: Cummings, L.L. & Staw, B.M. (Eds.), Research in organizational behavior 6, (191-233). Homewood, IL: JAI Press.

Trevino, L.K., Lengel, R.K. & Daft, R.L. (1987). Media Symbolism, Media Richness and media Choice in Organizations. Communication Research, 14(5), 553-574.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 2, 2010 in Sekitar Komunikasi

 

One response to “Media Richness Theory

  1. KV pamungkas

    Oktober 5, 2010 at 1:17 pm

    thanks info nya gan..
    buat tugas lumayan

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: